Sejarah Kerajaan Banjar

Sejarah Kerajaan Banjar

Sejarah Kerajaan Banjar

Sejarah Kerajaan Banjar
Sejarah Kerajaan Banjar
Pada zaman dahulu,wilayah Indonesia memang dihuni oleh banyak kerjaan-kerajaan. Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang Sejarah Kerajaan Banjar yang terletak di Pulau Kalimantan, atau lebih tepatnya di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.
Kerajaan Banjar atau Kerajaan Banjarmasin merupakan salah satu Kerajaan Islam di Pulau Kalimantan, yang berdiri pada september 1526. Sultan pertamanya bernama Sultan Suriansyah (Raden Samudera) yang memerintah pada 1526-1545. Sebenarnya kemunculan Kerajaan Banjar tidak terlepas dari melemahnya pengaruh Negara Daha.
Kala itu Kerajaan Daha dipimpin oleh Raden Sukarama yang sudah sakit-sakitan. Ia kemudian mewasiatkan kekuasaan sebagai raja kepada cucunya, Raden Samudera. Akan tetapi keputusan ini ditentang oleh tiga anak Raden Sukarama yaitu Mangkubumi, Tumenggung dan Bagulung. Mereka merasa lebih pantas mewarisi tahta, ketimbang keponakan mereka itu. Akhirnya setelah Raden Sukarama wafat, Pangeran Tumenggung berusaha merebut kekuasaaan dari Raden samudera sebagai pewaris tahta kekuasaan Negara Daha.
Kekalahan tersebut membuat Raden Samudera melarikan diri dan bersembunyi di daerah hilir sungai barito, tepatnya di Kampung Oloh. Untungnya Ia dilindungi oleh kelompok Melayu di kawasan tersebut. Seiring waktu, Kampung Oloh menjadi kawasan yang ramai karena aktivitas perdagangan dan banyak pedagang yang menetap.

Raden Samudera kemudian melihat potensi dari wilayah ini

Ia melihat bahwa Sumber Daya Manusia di sana bisa menjadi kekuatan untuk melawan Negara Daha. Akhirnya keinginan tersebut terwujud setelah komunitas melayu mengangkat Raden Samudera sebagai kepala Negara.
Gelarnya kini menjadi langkah awal erjuangan Raden Samudera. Terbentuknya kekuatan politik baru di banjarmasih, sebagai kekuatan politik tandingan bagi Negara Daha ini menjadi media politik bagi Raden Samudera dalam usahanya memperoleh haknya sebagai Raja di Negara Daha, sedangkan bagi orang Melayu merupakan media mereka untuk tidak lagi membayar pajak kepada Negara Daha.
Setelah menjadi Raja di Banjarmasih, Raden Samudera dianjurkan oleh Patih Masih untuk meminta bantuan Kerajaan Demak. Permintaan bantuan dari Raden Samudera diterima oleh Sultan Demak, dengan syarat Raden Samudera beserta pengikutnya harus memeluk agama Islam. Syarat tersebut disanggupi Raden Samudera dan Sultan Demak mengirimkan kontingennya yang dipimpin oleh Khatib Dayan. Setibanya di Banjarmasih, kontingen Demak bergabung dengan pasukan dari Banjarmasih untuk melakukan penyerangan ke Negara Daha di hulu sungai Barito.

Setibanya di daerah yang bernama Sanghiang Gantung

pasukan Bandarmasih dan Kontingen Demak bertemu dengan Pasukan Negara daha dan pertempuran pun terjadi. Pertempuran ini berakhir dengan suatu mufakat yang isinya adalah duel antara Raden samudera dengan Pangeran Tumenggung. Dalam duel itu, Raden Samudera tampil sebagai pemenang dan pertempuran pun berakhir dengan kemenangan banjarmasih.
Setelah kemenangan dalam pertempuran, Raden Samudera memindahkan Rakyat Negara Daha ke Banjarmasih dan Raden Samudera dikukuhkan sebagai Kepala negaranya. Pembauran penduduk Banjarmasih yang terdiri dari rakyat Negara Daha, Melayu, Dayak dan orang jawa (kontingen dari Demak) menggambarkan bersatunya masyarakat di bawah pemerintahan Raden Samudera.
Pengumpulan penduduk di banjarmasih menyebabkan daerah ini menjadi ramai, ditambah letaknya pada pertemuan sungai barito dan sungai martapura menyebabkan lalu lintas menjadi ramai dan terbentuknya hubungan perdagangan. Raden Samudera akhirnya menjadikan Islam sebagai agama negara dan rakyatnya memeluk agama Islam. Gelar yang dipergunakan oleh Raden Samudera sejak saat itu berubah menjadi Sultan Suriansyah.

Kerajaan Banjar semakin berkembang dan lama kelamaan luas wilayahnya semakin bertambah

Kerajaan ini pada masa jayanya membentang dari banjarmasin sebagai ibukota pertama, dan martapura sebagai ibukota pengganti setelah banjarmasin direbut belanda, daerah tanah laut, margasari, amandit, alai, marabahan, banua lima yang terdiri dari Nagara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua serta daerah hulu sungai barito.
Kerajaan semakin diperluas ke tanah bumbu, Pulau Laut, Pasir, Berau dan kutai di panati timur. Kotawaringin, Landak, Sukadana dan sambas di sebelah barat. Semua wilayah tersebut adalah Wilayah Kerajaan Banjar. Semua wilayah tersebut membayar pajak dan upeti. Semua daerah tersebut tidak pernah tunduk karena ditaklukkan,tetapi karena mereka mengakui berada di bawah Kerajaan Banjar, kecuali daerah pasir yang ditaklukkan pada tahun 1663.
Sultan terkahir dari kerajaan ini bernama Sultan Muhammad Seman. Pada masanya sekitar tahun 1905, seluruh wilayah Kerajaan banjar jatuh ke tangan Belanda. Dengan kekalahan ini, Kerajaan Banjar dinyatakan runtuh pada 24 Januari 1905. Namun sejak 24 Juli 2010, Kesultanan Banjar hidup kembali dengan dilantiknya Sultan Khairul Saleh.
Nah Sobat, demikian artikel tentang Sejarah Kesultanan Banjar. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan Sobat semua.
Baca juga artikel: