Sebut Bullying Sebagai Agresi Sosial, Pengamat: Ini Problem Kesehatan Global

Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Sebut Bullying Sebagai Agresi Sosial, Pengamat: Ini Problem Kesehatan Global

Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar
Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Aksi bullying atau perundungan yang marak dilakukan pelajar dan mahasiswa terkait

erat dengan masalah kesehatan masyarakat global. Hal itu tentu akan berujung pada kesehatan psikis seseorang baik korban maupun pelaku hingga mengakibatkan depresi.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menyebut bullying sebagai agresi sosial kerna pasti dilakukan oleh kelompok. Agresi sosial di sekolah, kata dia, merupakan sebuah problem kesehatan masyarakat global.

“Dalam sebuah survei global pada tahun 2010 di 40 negara di dunia menemukan bahwa 10,3 persen siswa melakukan agresi sosial terhadap sesama temannya dan 11.7 persen menjadi korban,” jelasnya kepada JawaPos.com, Rabu (19/7).

Data lain studi di 80 negara di dunia menemukan prevalensi terjadinya 35 persen

agresi sosial tradisional dan 15 persen agresi sosial virtual. Menurut Devie, agresi sosial ini berdampak pada psikis korban maupun pelaku.

“Berdampak pada peningkatan perasaan isolasi, penolakan, putus asa dan depresi hinga kecemasan,” jelas penulis buku ini.

Devie menjelaskan sebagian besar peristiwa agresi terjadi di sekolah, di luar sekolah, di kendaraan umum. Terkadang agresi ini terjadi di tempat tempat dimana anak–anak berkumpul.

Dalam sebuah studi beberapa variasi tempat agresi adalah kelas (29,3 persen, di koridor (29,0 persen), di kantor (23,4 persen), di tempat olraharaga (19,5 persen), kamar mandi (12.2 persen), tempat bermain atau istirahat (6,2 persen).

“Kasus agresi sosial tertinggi justru berupa agresi verbal dan sosial,

dan saat ini disusul dengan agresi di dunia virtual,” jelasnya.

Dalam sebuah studi lain persentase agresi biasa dilakukan dengan menyebut panggilan negatif (44,2 persen), menggoda (43,3 persen), menyebarkan gosip atau kebohongan untuk menjatuhkan reputasi (36,3 persen), mendorong (32,4 persen), memukul (29,2 persen), meninggalkan atau mengisolasi (28,5 persen), mengancam (27,4 persen) mencuri properti (27,3 persen) komentar atau perilaku yang bernuansa seksusal (23,7 persen).

“Kesimpulannya, ini memang pandemi kesehatan masyarakat global,” tutup Devie.

 

Baca Juga :