Qira’ah ditinjau dari segi kualitas

Mei 18, 2020 by Tidak ada Komentar

Qira’ah ditinjau dari segi kualitas

1.Qiraat mutawatir, adalah qiraat yang disandarkan pada periwayat yang terpercaya dan tidak mungkin mereka berdusta.

  1. Qiraat masyhur, adalah qiraat yang sanadnya sahih tetapi tidak sampai mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab, rasm Uthmani dan terkenal dikalangan ahli qiraat. Oleh sebab itu, qiraat tersebut tidak dikatakan syadz.
  2. Qiraat ahad, adalah qiraat yang sanadnya sahih, tetapi rasmnya berbeda dengan rasm Uthmani. Demikian juga dengan kaidah dalam bahasa Arabnya yang berbeda serta tidak se-masyhur seperti tersebut di atas, seperti terdapat dalam surah al-Taubah ayat 128:
  3. Syaaz, yaitu yang tidak sah sanadnya diluar Qiraat yang sepuluh.
  4. Maudhu yang tidak mempunyai asalnya.
  5. Al Mudrik (sisipan) , yaitu menambah-nambah dalam bacaan atas bentuk tafsir .

Menurut jumhud, qiraat tujuh ini adalah mutawatir. Kata Nawawi dalam kitabnya. Syahrul Mazahib yang tidak boleh membaca dalam sembahyang ialah qiraah yang tidak sah sanadnya, karena dia bukan Al-qur’an.

  1. Sejarah Munculnya Qiraat  

Perbedaan cara membaca Al-qur’an atau dengan istilah qiraat Al-qur’an, bukan tanpa sebab. Qiraat muncul dengan sebab situasi dan kondisi tertentu. Dari beberapa riwayat dan naskah sejarah, kronologi sebab munculnya qiroat Al-Qur’an dimulai pada masa khalifah Utsman bin Affan.Untuk menentukan diterimanya sebuah qiroat para ulama menetapkan kriteria-kriteria sebagai berikut.

Ø  Muttawatir, yaitu qiroat yang diturunkan dari beberapa orang dan tidak mungkin terjadi kebohongan.

Ø  Sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

Ø  Sesuai dengan kaidah Mushaf Utsman.

Ø  Mempunyai sanad yang sahih.

  1. Perbedaan Qiraat

Terdapat beberapa perbedaan qiroat, ada qiroat sab’ah (qiroat tujuh), qiroat       as-syarah (qiroat sepuluh), qiroat arba’ata ‘asyar (qiroat empat belas). Hal ini terjadi akibat salah satu atau beberapa sebab:

  1. Perbedaan dalam i’rab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat.
  2. Perbedaan pada I’rob dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah maknanya
  3. Perbedaan dan perubahan huruf tanpa berubah i’rab dan bentuk tulisannya, sementara maknanya berubah.

sumber :