Perkembangan dan masa kejayaan Daulah Abbasiyah

Juni 23, 2020 by Tidak ada Komentar

Perkembangan dan masa kejayaan Daulah Abbasiyah

Perkembangan dan masa kejayaan Daulah Abbasiyah

Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki, dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur, baik untuk bangunan istana, masjid, bangunan kota dan lain sebagainya. Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota, seperti pada istana Qashrul dzahabi, dan Qashrul Khuldi, sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad, Samarra dan lain-lainnya.

Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Pada masa inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal, seperti Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti kitab Kalilah wa Dimna. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad, pencipta teori musik Islam, Al farabi dan lain-lainnya.

Baca Juga: Sholat Rawatib

Selain bidang –bidang tersebut diatas, terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah, telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi.
Daulah Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya khalifah al Mahdi (775-785 M) sampai khalifah al-Mutawakkil (847-861 M). Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbasiyah mulai menurun dalam bidang politik meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang.
Kalau dasar-dasar pemerintahan Bani Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas dan Abu Ja’far al-Mansur, maka puncak keemasannya dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu:

1. Al-Mahdi (775-785 M)

Pada masa pemerintahannya kondisi negara sangat stabil dan tidak ada gerakan-gerakan signifikan. Ia sangat geram dengan gerakan Zindiq, yaitu paham agama manawiyah paganistik (penyembah cahaya dan kegelapan).

2. Al-Hadi (775-786 M)

Bisa dikatakan masa pemerintahannya adalah yang paling singkat diantara khalifah yang lain, yaitu hanya 3 bulan saja. Selama ia memimpin, ia berusahan untuk mencabut gelar putra mahkota dari yang Ayahnya (Al-Mahdi) kepada saudaranya Harun Ar-Rasyid untuk diberikan pada anaknya. Namun, upaya itu gagal. Ia berhasil menaklukan pemeberontakan yang dilakukan Husein bin Ali ibnul Husein ibnul Hasan bin Ali di Mekah dan Madinah atau yang dikenal dengan perang Fakh.

3. Harun al-Rasyid (785-809 M)

Pada masa inilah Islam mengalami puncak kejayaan yang luar biasa, ia merupakan raja paling agung dalam sejarah peradaban Islam (golden age of Islam). Penaklukan dan penyerbuan ke Romawi telah dilakukannya pada usian 20 tahun. Pemahamn ilmu pengetahuan dan Agamanya begitu kental, ia adalah seorang ulama sekaligus politisi.
Salah satu jasa terbesarnya ialah pembangunan Bait Al-Hikmah, sebuah pusat ilmu pengetahuan dan perdaban dunia pada masa itu. Pada masa ini keadaan negara sangatlah stabil dan tenang, tidak terdapat pemberontakan yang signifikan.
Ia berhasil melakukan ekspansi ke negeri Romawi dan berhasil mangalahkan Nicephorus, Raja Romawi masa itu.

4. Al-Ma’mun (813-833 M)

Pada masa kekuasaannya terjadi beberapa pemberontakan, yang paling krusial ialah fitnah yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah mahluk dan bukan wahyu yang diturunkan (218H/833M), sedangkan Al-Makmun meyakini pendapat yang dikeluarkan kaum Mu’tazilah ini. Imam Ahmad bin Hanbal (imam besar hukum 4 mazhab) dibunuh karena mempertahankan kesucian Al-Quran adalah wahyu.
Al-Makmun mengambil banyak pelajaran dari sejarah khilafah yang ia pahami, ia sadar bahwa khilafah bukanlah miliknya secara khusus yang diwariskan kepada anaknya, dan pemerintahan dalam pandangannya bertujuan untuk kemaslahatan umum. Ia tidak menjadikan anaknya sebagai penerus tahta. Kekuasaannya berlangsung selama 20 tahun.

5. Al-Mu’tashim (833-842 M)

Ia adalah saudara dari Abdullah Al-Makmun. Pada masa kekuasaannya ia lebih memilih orang-orang Turki untuk bekerja di pemerintahan dibanding sebelumnya yang memilih orang-orang Arab dan Persia. Keputusan ini merupakan sebuah dilema bagi keturunan dan anak-anaknya (orang Arab), karena secara tidak langsungmenyerahkan kekuasaan pada orang Turki sepenuhnya. Pemerintahannya berlangsung selama 9 tahun.

6. Al-Wasiq (842-847 M)

Pembesar-pembesar Turki mencapai posisi yang terhormat pada masanya, bahkan memberikan gelar “Sultan” kepada seorang panglima Turki yang bernama Asynas, sehingga membuat panglima tersebut memiliki kekuasaan yang sangat luas. Pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun.

7. Al-Mutawakkil (847-861 M)

Orang-orang Turki mulai menguasai kunci-kunci pemerintahan, ia berusaha untuk menghapus kekuasaan orang-orang Turki namun gagal. Al-Mutawakkil sangat tidak setuju dengan pendapat bahwa Al-Quran adalah mahluk sehingga ia menaruh hormat pada Imam Ahmad bin Hanbal yang menentang pendapat tersebut. Akibat meluasnya pengaruh orang Turki terhadap pemerintahan, dibunuhlah Al-Mutawakkil oleh orang Turki. Pemerintahannya berlangsung selama 15 tahun.