Perilaku Yang Mencerminkan Kerukunan

Perilaku Yang Mencerminkan Kerukunan

Perilaku Yang Mencerminkan Kerukunan

Perilaku Yang Mencerminkan Kerukunan
Perilaku Yang Mencerminkan Kerukunan

Menjaga Kebersamaan dan Tali Silaturrahmi dengan Berbagai Aktifitas

Dalam menjalankan aktifitas keseharian, menjaga tali silaturrahmi sangatlah penting, baik dalam lingkungan sekolah, kantor, maupun didalam masyarakat. melaluiataubersamaini menjaga tali silaturrahmi akan mencerminkan persaudaraan yang kokoh tanpa ada saling bercerai, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-qur’an :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah engkau tiruananya kepada tali (agama) Allah, dan tidakbolehlah engkau bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu saat engkau lampau (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, kemudian menjadilah engkau lantaran nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan engkau sudah berada di tepi jurang neraka, kemudian Allah menyelamatkan engkau dari padanya. Demikianlah Allah mengambarkan ayat-ayat-Nya kepadamu, biar engkau mendapat petunjuk.
Selain dari ayat tersebut diatas Rasulullah saw juga menyampaikan dalam sabdanya :

وَعَنْ أنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلم : لاَتَقَا طَعُوا وَلاَتَدَا بَرُوا وَلَاتَبَا غَضُوا وَلاَتَحَا سَدُوا ، وَكُونُواعِبَادَ اللهِ إخْوَانًا ، وَلاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

Artinya :Anas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: tidakboleh putus-memutus korelasi dan tidakboleh belakang-membelakangi dan tidakboleh benci-membenci, dan tidakboleh hasud-menghasud dan jadilah engkau hamba Allah sebagai saudara, dan tidak dihalalkan bagi seorang muslim memboikot saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari. (Muttafaq Alaih) (Buchary, Muslim)

Bersikap Rendah Hati Terhadap Sesama

Sikap rendah hati ialah susila yang mulia yang dimiliki oleh Rasulullah saw. melaluiataubersamaini sikap rendah hati ini insan bisa sanggup menjadi lebih tiinggi derajatnya disisi Allah. Seseorang yang bisa bersikat rendah hati maka dengan sendirinya tidak akan pernah atau jauh dari sifat arogan, tidak pernah merasa pintar, dan merasa paling segalanya. oleh lantaran itu dengan sikap rendah hati akan melahirkan korelasi persaydaraan yang kokoh dan berpengaruh sehingga kerukunan pun akan semakin terpelihara

wasallam bersabda:
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan Allah mewahyukan kepadaku biar kalian saling merendah diri biar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan biar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim 2865)

Mengakui dan Menghormati Setiap perbedaan Yang Ada Disekitar Kita

Baca Juga: Rukun Islam

Orang yang bersikap toleran, maka akan senantiasa menghormati segala bentuk perbedaan yang ada disekitarnya, baik yang berafiliasi dengan krakter saudaranya yang berguaka ragam, perbedaan pendapat, dan yang lainnya. Karena tiruana perbedaan yang ada pada hakikatnya yaitu ialah bentuk motivasi untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 48 :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami sudah turunkan kepadamu Al Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan kerikil ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah kasus mereka berdasarkan apa yang Allah turunkan dan tidakbolehlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang sudah hadir kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara engkau, Kami diberikan hukum dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, pasti engkau dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji engkau terhadap pemdiberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali engkau tiruananya, kemudian didiberitahukan-Nya kepadamu apa yang sudah engkau perselisihkan itu, “. (Q.S.Al-Maidah ayat 48)