Lafazh-Lafaz Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

Mei 14, 2020 by Tidak ada Komentar

Lafazh-Lafaz Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

Lafaz-lafaz yang digunakan untuk men-tajrih-kan dan men-ta’dil-kan itu bertingkat. Menurut Ibnu Hatim, Ibnu Shalah dan Imam An-Nawawy, lafaz-lafaz itu disusun menjadi 4 tigkatan, sedangkan Ibnu Hajar menyusunnya menjadi 6 tingkatan, yaitu sebagai berikut :

Tingkatan pertama, segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam keadilan dengan menggunakan lafaz-lafaz yang af’alu al-ta;dil atau ungkapkan yang mengandung pengrtian sejenisnya :

 أوثق الناس                          = orang yang paling tsiqat, orang yang palig kuat                                   hapalannya.

أثبت الناس حفظاوعدالة            = orang yang paling kuat hapalan dan keadilannya.

 إليه المنتهى فى الشبت            = orang yang paling menonjol keteguhan hatinya dan akidahnya

Tingkatan kedua, memperkuat tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat yang menunjukkan keadilan dan ke-dhabit-annya, baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh (dengan mengulangnya) maupun semakna, misalnya :

 ثبت ثبت         =   orang yang teguh (lagi) eguh, yaitu teguh dalam pendiriannya.

 ثقة ثقة           = orang yang tsiqah (lagi) tsiqah, yaitu orang yang sangat dipercaya.

Tingkatan ketiga, menunjukkan keadilan dengan suatu lafaz yang mengandung arti ‘kuat inggatan’, misalnya :

 ثبت              = orang yang teguh (hati-hati lidahnya).

 متقن              = orang yang menyakinkan ilmunya.

Tingkatan keempat, menunjukkan keadilan dalam ke-dhabit-an, tetapi dengan lafaz yang tidak mengandung arti ‘kuat ingatan dan adil’ (tsiqah), misalnya :

 صدوق           = orang yang sangat jujur.

 مأمون            = orang yang dapat memegang amanat

Tingkatan kelima, menunjukkan kejujuran rawi, tetapi tidak diketahui adanya ke-dhabit-an, misalnya :

 محلة الصدق    = orang yang berstatus jujur.

Tingkatan keenam, menunjukkan arti ‘mendekati cacat’. Seperti sifat-sifat tersebut diatas yang diikuti dengan lafaz “Insya Allah” atau lafaz tersebut di-tashir-kan (pengecilan arti), atau lafaz itu dikaitkan dengan suatu pengharapan, misalnya :

 صدوق إنشاءلله           = orang yang jujur, insya Allah.

 فلان أرجوبأنل لابأسبه = orang yang diharapkan tsiqah.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/