Kepala Sekolah Sebagai Pendidik

Juli 18, 2019 by Tidak ada Komentar

Kepala Sekolah Sebagai Pendidik

Kepala Sekolah Sebagai Pendidik

Kepala Sekolah Sebagai Pendidik

 

Di dalam uraian tentang jenis dan kualifikasi tenaga kependidikan

telah dijelaskan bahwa kepala sekolah merupakan jabatan tugas tambahan, dan di sisi lain secara teoritik maupun fungsional kepala sekolah juga disebutkan termasuk tenaga pendidik. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 yang mengatur tentang Sistem pendidikan Nasional dalam pasal 39 (2) berbunyi pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembim-bingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Kemudian dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005

tentang Guru dan Dosen dalam pasal 1 (1) berbunyi guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan demikian melihat posisi kualifikasi kepala sekolah sebagai tenaga manajemen pendidikan dan tenaga pendidik, maka kepala sekolah juga melaksanakan tugas sebagai pendidik, yaitu mendidik. Mendidik menurut Wahjosumidjo (2008) diartikan memberikan latihan mengenai akhlak dan kecer-dasan pikiran sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Demikian juga dalam perkembangan selanjutnya kata pendidikan dipersamakan dengan kata-kata pengajaran.

Berdasarkan pada pengertian pendidikan tersebut memberikan indikasi

bahwa proses pendidikan di samping secara khusus dilaksanakan melalui sekolah, dapat juga diselenggarakan di luar sekolah, yaitu keluarga dan masyarakat. Lebih jauh dapat juga dipahami bahwa seorang pendidik tersebut harus benar-benar mengetahui teori-teori dan metode dalam pendidikan tersebut. Kepala sekolah sebagai seorang pendidik harus mampu menanamkan, memajukan dan meningkatkan paling tidak empat macam nilai, yaitu: (1) nilai mental, nilai yang berkaitan dengan sikap bathin dan watak manusia, (2) nilai moral yang berkaitan dengan hal-hal ajaran baik dan buruk mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban atu moral yang diartikan sebagai ahklak, budipekerti, dan kesusilaan, (3) nilai fisik hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan atau penampilan manusia secara lahiriah, dan (4) nilai artistik yang berkaitan dengan kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan.

Kepala sekolah sebagai pendidik

juga harus memperhatikan dua permasalahan pokok, yaitu pertama adalah sasarannya, dan yang kedua adalah cara dalam melaksanakan perannya sebagai pendidik.
Ada tiga kelompok yang menjadi sasaran dari kepala sekolah dalam melaksanakan tugas mendidiknya, yaitu pertama adalah peserta didik atau murid, yang kedua adalah pegawai administrasi, dan yang ketiga adalah guru-guru. Ketiga kelompok ini menjadi sasaran dalam pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Ketiga kelompok tersebut antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat prinsip, yang secara umum dapat dicermati dalam berbagai gejala dan perilaku yang ditunjukannya seperti misalnya dalam tingkat kematangannya, latar belakang sosial yang berbeda, motivasi yang berbeda, tingkat kesadaran dalam bertanggungjawab, dan lain sebagainya.
Konsekwensi dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut adalah kepala sekolah di dalam melaksanakan tugas mendidikanya dalam rangka menanamkan (1) nilai mental, nilai yang berkaitan dengan sikap bathin dan watak manusia, (2) nilai moral yang brkaitan dengan hal-hal ajaran baik dan buruk mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban atu moral yang diartikan sebagai ahklak, budipekerti, dan kesusilaan, (3) nilai fisik hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmani atau badan, kesehatan atau penampilan manusia secara lahiriah, dan (4) nilai artistik yang berkaitan dengan kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan, juga seharusnya dengan menggunakan cara atau pendekatan yang berbeda-beda terhadap setiap sasaran didiknya, tidak bisa dilakukan dengan pendekatan dan strategi yang sama.
Berbagai pendekatan yang bisa digunakan oleh kepala sekolah terhadap kelompok sasaran dalam melaksanakan pendidikan atau mendidik muridnya, staf pegawai adminis-trasi, dan guru-gurunya. Pertama dengan menggunakan pendekatan atau strategi persuasi. Persuasi yang dimaksudkan di sini adalah mampu meyakinkan secara halus sehingga para siswa, staf pegawai administrasi dan guru-guru yakin akan kebenaran, merasa perlu dan menganggap penting nilai-nilai yang terkandung dalam nilai-nilai aspek mental, moral, fisik, dan estetika ke dalam kehidupan mereka. Persuasi dapat dilakukan secara individu maupun secara kelompok.
Kedua dengan pendekatan dan setrategi keteladanan, adalah hal yang patut, baik dan perlu untuk dicontoh yang disampaikan oleh kepala sekolah melalui sikap, perbuatan, perilaku termasuk penampilan kerja dan penampilan fisik.
Sudah tentunya kepala sekolah dalam menggunakan pendekatan dan strategi persuasi dan keteladanan terhadap muridnya, staf pegawai, dan guru-guru tersebut harus tetap berpijak dan menghormati norma-norma dan etika-etika yang berlaku dimasyarakat khususnya di dunia pendidikan. Secara lebih spesifik bagaimana kepala sekolah seharusnya memperlakukan muridnya atau anak didiknya. Kepala sekolah sebaiknya harus memahami bahwa pengertian pendidikan tersebut tidak hanya semata-mata diberikan pengertian sebagai proses mengajar saja, tetapi juga adalah sebagai bimbingan, dan yang lebih penting juga adalah bagaimana dalam mengaplikasikannya proses bimbingan tersebut.
Tampaknya dalam hubungan dengan pemaknaan terhadap bimbingan tersebut tidak dapat dilepaskan dari pengertian pembimbingan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem amongnya. Tiga kalimat padat yang terkenal dalam sistem among tersebut adalah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karsa, dan tut wuri handayani. Ketiga kalimat tersebut mempunyai arti bahwa pendidikan harus dapat memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta anak didiknya (Soetjipto dan Raplis Kosasi, 1999). Sebagai kepala sekolah harus mampu menciptakan dan menum-buhkan kodisi yang kondusif yang dapat memberi dan membiarkan anak didiknya menuruti bakat dan kondratnya sementara kepala sekolah memperhatikannya, dan mem-pengaruhinya dalam arti mendidiknya dan mengajarnya. Dengan demikian membimbing mengandung arti dalam bersikap menentukan ke arah pembentukan kemana anak didik mau dibawa atau ke arah tujuan pendidikan.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di sekolah harus bersikap positif terha-dap guru-guru dan pegawai administrasi lainnya dalam melaksanakan tugasnya untuk pencapai tujuan sekolahnya. Kepala sekolah dituntut mampu untuk dapat kerjasama, mam-pu untuk memberi arahan, dan memberi petunjuk, kepala sekolah diharapkan juga mampu menerima berbagai masukkan, dan kritik dari guru-guru. Kepala sekolah juga mampu membina, mendidik, melatih semua guru dan pesonil sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing dalam usaha tambahan pengetahuan keterampilan dan pengalaman maupun perubahan sikap yang lebih positif terhadap pelakasanaan tugas.