Gempa Bumi dan Patahan

Gempa Bumi dan Patahan

Gempa Bumi dan Patahan

Gempa Bumi dan Patahan
Gempa Bumi dan Patahan

Gempa bumi adalah sebuah gejala alam yang tidak dapat diprediksi kejadiannya dan datangnya pun secara tiba-tiba. Gempa bumi ini dapat terjadi di mana saja dan kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Gempa bumi merupakan gerakan kulit bumi yang tiba-tiba. Gempa bumi terjadi di sepanjang patahan ketika tegangan dalam kerak tiba-tiba terlepaskan. Kebanyakan gempa bumi terjadi di sepanjang batas patahan.

Bentuk Lahan Patahan

Patahn menciptakan beberapa bentuk lahan yang unik. Salah satunya adalah fault scarp, sebuah clif yang dihasilkan ketika permukaan bumi berada di salah satu sisi dataran patahan yang muncul ke permukaan di sisi lain bidang patahan. Bentuk umum lainnya yang dihasilkan oleh patahan, khususnya patahan normal adalah graben. Graben adalah blok batuan rendah yang dikelilingi oleh dua jenis bidang patahan paralel yang lebih tinggi. Sebuah lembah graben dan bidang patahan di sisi lainnya disebut dengan lembah celah (rift valley).

Great Rift Valley di Afrika merupakan contoh lembah celah yang terbentanstriaeg lebih dari 4.800 km (lebih dari 3.000mil) dari Syria ke Mozambiq. Kadang-kadang patahan normal paralel dan susunan besar menghasilkan bentuk blok lain yang muncul dan tenggelam.

Dampak Pada Batuan

Patahan akan berdampak pada batuan di tempat terjadinya. Gerakan pada permukaan patahan akan menghasilkan alur atau goresan yang dikenal striae dan permukaan yang tergerus ketika striae terbentuk adalah permukaan slickenside. Gerakan yang lebih ekstensif dapat menghasilkan pecahan batuan di sepanjang permukaan patahan. Daerah yang dihasilkan dari retakan batuan disebut patahan breccia (jika material tersebut berurat kasar) atau patahan gouge (jika material tersebut berurat lembut). Oleh karena itu, breccia bersifat porous. Daerah dari breccia sendiri sangat penting sebagai jalan keluar untuk aliran hidrotermal atau air bawah tanah.

Lempeng Tektonik (Tectonik Plate)

Menurut Teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunungapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.

Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupu kerak samudra (oceanic, crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi (earth’s mantle). Kerak benua dan kerak samudra beserta lapisan teratas mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibandingkan kepadatan pada kerak benua. Demikian pula elemen-elemen zat pada kerak samudra (mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua (felsik).

Astenosfer

Di bawah litosfer terdpat lapsan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Oleh karena itu, suhu dan tekanan di lapisan astenosfer sangat tinggi sehingga batuan-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid). Litosfer terpecah kedalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan satu dengan yang lainnya.

Secara umum, bumi kita tersusun atas lima lempeng besar dan beberapa lempeng kecil. Lima lempeng besar tersebut adalah lempeng Pasifik, Amerika Utara, Eurasia, Antartik, dan Lempeng Afrika. Beberapa lempeng kecil, yaitu lempeng Kokos, Nasca, Karibia, dan lempeng Gorda. Ukuran lempeng berbeda-beda. Lempen Coco memiliki lebar 2000 km (1400 mil), sementara lempeng Pasifik merupakan lempeng yang terbesar, lebarnya hampir 14.000 km (9.000 mil).

Baca juga: