Diskusi Kapan Terakhir Belajar

November 15, 2019 by Tidak ada Komentar

Diskusi Kapan Terakhir Belajar

Diskusi Kapan Terakhir Belajar

Diskusi Kapan Terakhir Belajar

Tulisan kali ini sebetulnya terkait dengan urusan organisasi dan manajemen. Konsepnya bernama learning organization. Dicetuskan oleh Peter Senge tahun 91.

Kalau mendengar kata belajar, yang ada di benak saya itu saya menangkap suatu materi dan mengolahnya. Entah itu dari pengajar, nonton video youtube, baca buku, atau baca blog seperti ini…

Nah, rupanya konsep belajar itu lebih luas dari sekedar pengayaan wawasan, pengetahuan teoritis atau praktis. Belajar yang seperti ini ternyata belajar paling gampang, karena kita hanya perlu menerima dan mengolah informasi.

Lalu apa belajar yang sulit?

Ada 2.

Pertama, belajar yang diawali dari kesadaran kita atas sesuatu, kemudian mempertanyakan kondisi yang sudah ada. Perlu dicatat, ini agak sedikit berbeda dengan ketika kita ingin tahu dan kemudian mencari tahu.

Contohnya, tiba-tiba kita menyadari. Loh! Kok selama ini aku kalo pupup jongkok ya (biasanya saya dapat wangsit kalau sedang pupup soalnya). Kemudian aku mulai mencari tahu, kenapa kok bisa pupup jongkok. Apa alasan di baliknya, sejarahnya, aturan2nya? Setelah itu mempertanyakan, apa ada dasarnya bahwa pupup itu harus jongkok, bisakah pupup itu nggak jongkok?

Nah! Inilah pertanyaan selanjutnya. Bisakah pupup itu nggak jongkok? Dari situ kita cari-cari. Rupanya ada pupup sambil duduk. Kita kemudian bandingkan positif negatifnya. Dalam proses membandingkan ini posisinya harus netral, karena tujuannya pembuktian, nggak boleh berprasangka dulu atau memegang keyakinan bahwa pupup itu harus jongkok.

Setelah tau, lha ternyata pupup sambil duduk itu bisa. Terus muncul pertanyaan lagi. Lha kalo pupup jongkok bisa, duduk bisa, harusnya ada kemungkinan cara pupup lain. Ada nggak kemungkinan lain? Bisa nggak aku pupup dengan cara selain jongkok atau duduk?

Pertanyaan ini akan mengarahkan kita menuju penemuan baru cara pupup. Misalnya sambil berdiri…. Dari situ cara ini harus diuji coba dan jalani. Kemudian setelah menjalani, kita akan kembali lagi ke siklus pertama.

Menyadari…

Lho! Ternyata kalo pupup sambil berdiri itu bikin $#$%%(@~

Di sini, proses pertanyaan akan muter lagi dari awal. Kalo pupup sambil berdiri ternyata bikin $#$%%(@~, bisa nggak pupup sambil berdiri tapi %^#^&**)(*.

Belajar jenis ini merupakan belajar mensintesis. Bukan hanya menerima dan mengolah informasi, namun menghasilkan hal baru dari informasi tersebut (nggak harus baru dalam artian yang terbosan wow gitu lo ya….). Inilah belajar yang tergolong agak sulit.

Nah, belajar yang paling sulit itu adalah….

Belajar dari kesalahan.

Belajar jenis ini artinya kita harus menyadari dan mengakui bahwa kita melakukan kesalahan, kemudian mengubah diri kita.

Dalam organisasi, inilah belajar yang paling sulit. Berapa banyak orang yang kalo melakukan kesalahan malah ditutupi… Coba yang pada kerja ngaku hayo…

Tenang, itu wajar… Karena setiap orang punya motivasi dan ego. Ada yang perlu pencitraan karena pengen karirnya lancar, ada yang takut biar nggak diomeli bos, ada juga yang perlu kelihatan keren setiap saat. Ada juga karena organisasinya toxic. Ada orang salah malah dibego-begoin. Dianggep nggak kompeten, atau malah bangga, karena pas jamannya dia berhasil pas jamannya orang lain jadi bego.

Macem-macem banget penyebabnya…

Dampaknya, organisasi bisa rusak. Contohnya banyak di luar sana.

Seharusnya yang baik itu, orang dengan sadar mengakui kesalahannya, mencari tahu penyebabnya, memperbaiki, dan menularkan pengalaman dan pengetahuannya ke orang lain. Nah, yang paling akhir ini penting. Menularkan. Kenapa?

Karena kalau dia sendiri yang memahami dan memperbaiki kesalahan. Cuma dia aja yang belajar. Orang lain bisa melakukan kesalahan yang sama. Dari sudut pandang organisasi. Organisasinya ya tetap melakukan kesalahan.

Nah, di sinilah pentingnya learning organization. Ini adalah organisasi di mana individu-individu di dalamnya menyadari sesuatu, mempertanyakan sesuatu, belajar, dan mereka melakukannya secara bersama-sama sebagai suatu sistem. Ini konsep dua dekade lalu. Tapi penting banget dipake sekarang…

Bagi teman-teman yang penasaran untuk membentuk learning organization. Senge di tahun 94 menambahkan metodologi nih… Dia namakan metodologinya 5 disciplines. Apa saja kelima disiplin itu?

Mari disimak satu per satu…

  1. Self awareness… Bahasa Indonesianya sadar diri. Sadar diri ini artinya bukan tau diri saya hanya kroco mumet di organisasi. Bukan… Sadar ini artinya memahami dengan betul dampak perilaku kita ke orang lain, dan posisi relatif kita dalam lingkungan. Jadi misalnya, kita senyam senyum sama bos, manggut2. Rupanya bos suka. Tapi teman-teman nggak suka. Nah, dengan sadar diri kita evaluasi. Kenapa…? Atau misalnya, kalau saya manggil orang pake jari, muka orang itu kok berubah jadi mendung. Kenapa? Kita harus sadar bahwa setiap perilaku kita itu berdampak pada lingkungan kita.
  2. Mental model… Bahasa Indonesianya nggak tau saya, tapi ini tentang asumsi yang ada di pikiran yang membentuk cara pandang dan tindakan-tindakan kita. Misalnya, pas rapat ketemu orang pake kaos oblong, celana jins, dan sepatu kets. Terus pas dia dateng nyalami, kita males2an. Pas dia ngomong, kita skeptis sama omongannya. Nah, rupanya itu didasari atas asumsi bahwa orang pake kaos itu nggak dewasa dan remeh. Contoh dalam keputusan bisnis. Misalnya kita investasi ke startup yang ternama banyak konsumen dan jaringannya. Asumsinya banyak konsumen dan jaringan itu menjanjikan. Padahal bisa jadi startup itu secara organisasi dan manajemen keuangan ruwet.
  3. Punya visi yang sama. Ini sulit lho, karena harus inklusif. Jangan sampai ada satu orang yang pendiem terus dianggap dia sevisi dengan mayoritas tim yang heboh2an. Impian bersama yang menyatukan semuanya, dan ini harus dibentuk bersama.
  4. Belajar kelompok. Artinya, kalau dapet ilmu ya bagi-bagi. Kalau salah ya cerita ke semua kok bisa salah, apa yang dipelajari dari kesalahan, gimana biar nggak ada yang mengulangi. Termasuk juga refleksi bersama, tapi bukan pijet refleksi. Maksudnya adalah, mengevaluasi diri dan kelompok. Misalnya, ngomong ke bos “saya ini tadi pas dipanggil pake jari sama pak bos itu rasanya nggak nyaman lho pak”. Bosnya sadar, “iya kah? Wah, coba saya pikir kenapa saya seperti itu…. Oooo, rupanya kebiasaan saya di rumah seperti itu. Oke, nanti saya coba kurangi. Kalo pas saya gitu lagi, tolong diingatkan ya.”
  5. System Thinking. Ini artinya kita berpikir secara sistemik, dengan cara melihat pola, mengaitkan satu hal dengan yang lain, memikirkan hubungan satu kejadian dengan berbagai hal. Ini bukan hanya memikirkan kausalitas (sebab-akibat), tapi melihat keterkaitannya dengan berbagai hal. Karena pada dasarnya hidup itu sistem yang pelik (complex system). Tidak semudah orang jatuh karena kesandung batu. Ada kaitan dengan kejadian yang lain. Misalnya batu ada di jalan karena jatuh dari truk. Dia lewat jalan itu karena jalan lain ditutup.Truk lewat situ karena menghindari cegatan. Banyak keterkaitan yang harus diamati, dan ini dilakukan secara bersama-sama sebagai satu sistem berpikir.

Nah, 5 disiplin di atas cuma salah satu cara membentuk learning organization. Apa ada cara lain? Ada. Untuk cerita pupup tadi itu, metodologinya menggunakan Triple-loop learning. Bisa bikin cara lain? Bisa dipikirkan…

Learning organization itu kalo bisa dijalankan enak. Kenapa?

Karena organisasi ini menerima kelemahan kita sebagai mahkluk yang lemah dan sering berbuat salah. Makanya manusia itu harus jadi mahkluk pembelajar. Organisasi ini juga selaras dengan kehidupan sebagai sistem yang kompleks. Nggak ada yang segampang “laporan salah karena staff salah input data”. Ada korelasi kejadian dengan hal-hal lain.

Demikian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat. Seperti biasa, jika ada komentar silakan ditulis di kolom yang tersedia.

Sumber : https://uberant.com/article/624633-dosenpendidikan-introduces-high-school-study-materials-on-their-website/