Alat Reproduksi Dalam

Juni 4, 2020 by Tidak ada Komentar

Alat Reproduksi Dalam

  1. Testis

Testis dibentuk di dalam abdomen fetus kira-kira 28 minggu kehidupan intrauteri, dan turun ke dalam scrotum dan ditopang oleh funiculus spermaticus sebelum lahir. Kegagalan testis untuk turun disebut cryporchismus, dan keadaan ini merupakan penyebab sterilitas pada pria, karena produksi sperma memerlukan suhu yang lebih rendah daripada suhu tubuh normal. Testes baru akan berfungsi penuh sampai ada rangsangan oleh glandula pituitaria anterior pada saat pubertas. (Syaifuddin. 2006)

Mengenai ujudnya, testis merupakan bangunan yang berbentuk oval, berwarna putih, kira-kira panjangnya 4 cm, lebarnya 2,5 cm dan tebalnya 3 cm. Masing-masing testis beratnya antara 10-14 gram (Syaifuddin. 2006).

Testis diselubungi oleh kapsula pelindung fibrosa yang disebut tunica albuginea, dan ditutup lagi oleh membran serosa yang disebut tunica vaginalis, yang memungkinkan masing-masing testis dapat bergerak secara bebas didalam scrotum (Syaifuddin. 2006).

Jaringan glanduler (kelenjar) yang menyusun testis dibagi menjadi 200-300 lobi. Setiap lobus berisi tubulus seminiferus yang berkelok-kelok yang bermuara ke dalam vas deferens (Syaifuddin. 2006)

Tubulus seminiferi mulai berkembang dari sel-sel syncitium pada saat anak laki-laki berumur 7 tahun, dan perkembangan yang cepet terjadi sampai umur 16 tahun pada saat testes mencapai ukuran dewasa. Dinding dalam tubulus dilapisi oleh lamina basalis, di atanya terletak epitelium germinativum yang merupakan asal pembentukan sperma setelah pubertas. (Verrals, Sylvia. 2011).

Pada pemeriksaan mikroskopik kadang-kadang dapat dilihat spermatogonia sebelum anak laki-laki berumur 11 tahun, tetapi produksi sperma yang mengalami pemasakan sebagian biasanya baru terjadi setelah anak laki-laki berumur 12 tahun. Produksi sperma yang masak baru terjadi setelah anak laki-laki berumur 16 tahun. (Verrals, Sylvia. 2011).

Sel-sel sertilo berkembang pada waktu yang bersamaan dengan epitelium germinativum dan sel sertilo ini memberi nutrien (makan) spermatozoa selama perkembangannya didalam testes. Sel-sel interstisial berkembang pada waktu yang sama, tetapi lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan tubulus seminiferi. (Verrals, Sylvia. 2011).

Sel-sel interstisial menghasilkan testosteron dan baru berkembang dengan sempurna pada waktu anak laki-laki berumur 18 tahun. Testis mempunyai dua fungsi yaitu :

  1. Untuk memproduksi testosteron, yaitu hormon yang mengendalikan sifat-sifat sekunder kejantanan
  2. Untuk memproduksi spermatozoa

Fungsi testis dapat terganggu oleh adanya orchitis (radang testes) yang dapat terjadi pada parotitis atau infeksi akut yang lain. Infeksi tadi dapat menyebabkan kegagalan testis dalam memproduksi spermatozoa. (Verrals, Sylvia. 2011).

  1. Saluran Reproduksi / Sistem Duktus

  2. Epididimis

Epididymis merupakan pipa halus yang berkelok-kelok, masing-masing panjangnya 6 meter, yang menghubungkan testis dengan vas deferens. Tubulus tadi mempunyai epitel bercilia yang melapisi bagian dalam guna membantu spermatozoa bergerak menuju vas deferens. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perjalanan sperma dari testis ke luar tubuh melalui sistem saluran. Dalam rangka (proksimal distal) saluran acessory adalah epididimis, duktus deferens, saluran ejakulasi, dan uretra. (Verrals, Sylvia. 2011).

Bentuk epidydimis (epi = samping, didym = testis) adalah sekitar 3,8 cm (1,5 inci). Kepalanya, berisi ductules eferen, aspek unggul testis. Tubuh dan ekor berada di daerah posterolateral testis. Sebagian dari epididimis terdiri dari saluran melingkar dari epididimis dengan panjang sekitar 6 m (20 kaki). Beberapa sel epitel pseudostraified dari saluran mukosa panjang, nonmotile microvili (stereocilia). Luas permukaan besar stereocilia ini memungkinkan mereka untuk menyerap cairan lebih dari testis dan untuk memberi nutrien ke banyak sperma yang disimpan sementara di dalam lumen. (Verrals, Sylvia. 2011).

Yang belum dewasa, sperma hampir nonmotile yang meninggalkan daerah testis bergerak perlahan di sepanjang duktus epididimis melalui cairan yang mengandung sejumlah protein antimikroba, termasuk beberapa β-defensin. Ketika mereka bergerak sepanjang tostous nya (perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 hari), kemampuan sperma untuk berenang mulai terlatih (Verrals, Sylvia. 2011).

Sperma ejakulasi dari epdidymis, bukan dari testis. Ketika seorang pria sedang terangsang secara seksual dan ejakulasi, otot polos di saluran dari kontrak epididimis, duktus deferens. Sperma dapat disimpan dalam epididimis selama beberapa bulan, tetapi jika diadakan lagi, mereka akhirnya phagocytized oleh sel epithalial dari epididimis. Ini bukan masalah bagi pria, karena sperma yang dihasilkan terus menerus (Verrals, Sylvia. 2011).

sumber :
http://www.unmermadiun.ac.id/sewulan/index.php/2020/05/seva-mobil-bekas/